
Gereja Gia Yen, Gedung Gereja paling besar dan megah di Keuskupan Xuan Loc, Vietnam yang diberkati pada tanggal 16 Maret 2026 (foto TTHGK)
Oleh Petrus Do
Antara Membangun Gedung dan Menumbuhkan Iman
Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah pembangunan gedung-gedung gereja benar-benar membantu menumbuhkan komunitas iman yang hidup, yang mampu melayani masyarakat dan menghayati Injil?
Selama bertahun-tahun, Pastor Joseph Trinh mencurahkan sebagian besar waktu dan tenaganya untuk memperbaiki gereja, pastoran, serta fasilitas katekese di parokinya di Vietnam.
Ia bahkan melakukan perjalanan ke berbagai tempat untuk menggalang dana—baik dari paroki-paroki di dalam negeri maupun para donatur di luar negeri—demi membiayai proyek yang ia anggap sebagai prioritas utama pelayanannya: meningkatkan fasilitas bagi umat.
Tahun ini, ia berencana melanjutkan penggalangan dana untuk memperbaiki dua kapel di komunitas kecil yang berada di bawah pelayanannya. Trinh bangga dengan pencapaiannya. Ia menyatakan telah merenovasi gereja dan membangun fasilitas baru yang tidak sempat dilakukan oleh pastor sebelumnya.
Baginya, bangunan gereja yang layak dan bermartabat merupakan syarat penting untuk merayakan liturgi secara pantas.
Tren pembangunan di seluruh negeri
Pendekatan ini mencerminkan tren yang lebih luas di Vietnam. Dalam beberapa dekade terakhir, banyak gereja, pastoran, ruang katekese, dan pusat pastoral dibangun atau direnovasi untuk memenuhi kebutuhan umat Katolik yang terus berkembang.
Pada 2025 saja, lebih dari 200 gereja, pastoran, dan fasilitas lainnya dibangun di seluruh negeri. Sekitar 150 di antaranya berada di keuskupan-keuskupan di wilayah utara, yang sebelumnya mengalami keterbatasan pembangunan sejak banyak umat Katolik bermigrasi ke selatan pada 1954 setelah wilayah utara berada di bawah pemerintahan komunis.
Gereja-gereja baru juga bermunculan di kawasan perkotaan yang berkembang pesat, seiring perpindahan penduduk ke kota dan terbentuknya komunitas Katolik baru.
Sebagian proyek ini berskala sangat besar dan memakan biaya tinggi. Ada yang membutuhkan waktu hingga satu dekade dengan anggaran mencapai ratusan miliar dong.
Salah satu contohnya adalah Gereja Lang Van di Provinsi Ninh Binh, yang diresmikan pada Desember lalu. Gereja bergaya Gotik ini disebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Bangunan tersebut mampu menampung sekitar 5.000 orang, dengan aula bawah tanah berkapasitas tambahan 800 orang, serta menara lonceng setinggi 110 meter.
Pembangunan gereja ini memakan waktu 10 tahun dengan biaya sekitar 400 miliar dong (sekitar 15,2 juta dolar AS), yang sebagian besar didanai oleh seorang pengusaha Katolik setempat. Gereja baru tersebut menggantikan bangunan lama yang tidak lagi mampu menampung hampir 4.000 umat dari paroki berusia 140 tahun itu.
Sang donatur menyatakan ingin “menciptakan tempat ibadah yang agung dan tahan lama, sekaligus meninggalkan warisan spiritual bagi generasi mendatang.”
Simbol keberhasilan atau kebutuhan nyata?
Meski demikian, gelombang pembangunan ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan rohaniwan dan umat.
Bangunan megah di sejumlah keuskupan kerap dikritik sebagai pemborosan, terutama jika melampaui kebutuhan pastoral dan membutuhkan biaya perawatan tinggi. Sejumlah imam mengakui bahwa proyek pembangunan menarik karena meninggalkan warisan yang terlihat nyata—menjadi simbol konkret masa pelayanan seorang pastor di paroki.
Penggalangan dana untuk pembangunan juga cenderung lebih mudah dibandingkan untuk kebutuhan yang kurang terlihat, seperti katekese, pendampingan umat, atau karya misioner. Dalam masyarakat yang masih menilai tinggi prestise dan pengakuan publik, para donatur lebih tertarik mendukung proyek yang dapat dikenang secara fisik.
Sebaliknya, hanya sedikit yang bersedia mendanai program pembinaan iman atau pelatihan kepemimpinan yang dampaknya tidak langsung terlihat.
Siklus pembangunan berulang
Fokus berlebihan pada pembangunan juga memunculkan dinamika baru di tingkat paroki.
Di beberapa tempat, gereja yang masih layak justru dibongkar untuk diganti dengan bangunan yang lebih besar, bahkan bersaing dengan paroki lain. Perpindahan pastor yang cukup sering juga memicu siklus renovasi tanpa henti.
Pastor baru kerap membawa visi berbeda, sehingga melakukan perubahan pada bangunan, patung, atau tata ruang. Pastor berikutnya pun bisa kembali mengubahnya.
Biaya dari proyek-proyek ini umumnya ditanggung oleh umat. Bahkan, ada pastor yang membangun pastoran baru sebelum menempatinya, lalu meminta umat menanggung biaya pembangunan tersebut.
Masalah lain adalah minimnya pengawasan profesional. Banyak keuskupan tidak memiliki komisi khusus pembangunan, sementara para pastor sendiri umumnya tidak memiliki latar belakang arsitektur. Akibatnya, beberapa bangunan gereja yang baru justru kurang memiliki nilai artistik maupun fungsional yang optimal.
Dampak terhadap pelayanan pastoral
Proyek pembangunan juga menyita banyak waktu para pastor.Penggalangan dana, pengelolaan keuangan, hingga pengawasan proyek sering kali membuat mereka kekurangan waktu untuk pelayanan umat. Seorang pastor yang membangun kembali gerejanya setelah dihancurkan badai mengaku hampir seluruh waktunya tersita untuk proyek tersebut.
“Hampir tidak ada waktu tersisa untuk pelayanan pastoral,” ujarnya.
Para imam senior melihat hal ini sebagai peringatan. Seorang pastor senior bahkan menasihati Trinh agar lebih fokus pada kebutuhan rohani umat—mendengarkan mereka, meningkatkan kesejahteraan hidup dan iman, serta membangun relasi lintas iman.
“Jika Anda mengabaikan kehidupan iman umat, sedikit yang akan datang ke gereja. Merawat umat—bukan membangun fasilitas—adalah misi utama seorang imam,” katanya.
Latar sejarah yang tak bisa diabaikan
Ledakan pembangunan ini juga perlu dipahami dalam konteks sejarah Vietnam.Setelah Perang Vietnam, banyak properti gereja tidak dapat diperbaiki atau dibangun kembali karena pembatasan hukum dan politik. Upaya pembangunan saat ini, dalam banyak hal, merupakan bentuk pemulihan dari kehilangan masa lalu.
Gereja dan pusat pastoral yang baru menjadi simbol kembalinya kehadiran publik Gereja. Namun, para sosiolog agama mengingatkan bahwa ketika bangunan fisik menjadi ukuran utama vitalitas, iman berisiko diukur dari properti, bukan dari kehidupan rohani.Proyek besar juga dapat menekan kondisi ekonomi umat. Tidak sedikit keluarga merasa wajib terus menyumbang, meski kemampuan mereka terbatas.
Membangun komunitas, bukan sekadar bangunan
Sejumlah umat mulai mempertanyakan apakah sumber daya yang ada seharusnya lebih banyak dialokasikan untuk pendidikan, kegiatan sosial, atau pelayanan bagi kaum miskin.
Dalam kajian sosiologi agama, dikenal dua jenis modal: modal material—berupa bangunan dan aset—serta modal sosial dan spiritual, seperti relasi komunitas, pelayanan, dan iman yang hidup.
Jika yang pertama berkembang lebih cepat daripada yang kedua, gereja bisa menjadi kaya secara fisik, tetapi miskin secara komunitas.
Gelombang pembangunan gereja di Vietnam hari ini memang mencerminkan upaya pemulihan sejarah sekaligus keinginan untuk tampil secara nyata di ruang publik. Namun, tantangan yang lebih mendalam bukanlah berapa banyak gereja yang dapat dibangun.Pertanyaan utamanya adalah apakah bangunan-bangunan tersebut mampu menumbuhkan komunitas iman yang hidup—yang melayani masyarakat dan menghidupi Injil.Sebab pada akhirnya, masa depan Gereja tidak ditentukan oleh megahnya bangunan, melainkan oleh kuatnya iman yang hidup di dalamnya (Sumber:UCANEWS, 19 Maret 2026)
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr