
Seorang wanita sedang lintas poster misille Iran di alun-alun Valiars-Tahren pada 6 April 2026
Oleh Paterno R.Esmaquel
MANILA: Seorang kardinal asal Filipina, Pablo Virgilio David, mengimbau masyarakat Amerika Serikat untuk mencegah Presiden Donald Trump mengambil langkah militer yang berpotensi menggunakan senjata pemusnah massal dalam konflik dengan Iran.
Dalam surat terbuka yang dirilis pada perayaan Paskah, David yang juga menjabat sebagai wakil presiden Federation of Asian Bishops’ Conferences menyinggung sejarah kelam pengeboman nuklir di Hiroshima dan Nagasaki pada masa Perang Dunia II.
Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Trump mengancam akan “menurunkan neraka” terhadap Iran jika negara itu tidak mencapai kesepakatan dalam waktu 48 jam, termasuk membuka akses ke Selat Hormuz.
Dalam suratnya, David menegaskan bahwa tanggung jawab tidak hanya berada di tangan pemimpin, tetapi juga masyarakat yang memilih dan mendukungnya.
“Jangan berpura-pura bahwa ini hanya tentang satu orang. Pemimpin tidak bertindak sendirian,” tulis David.
Uskup berusia 67 tahun yang dikenal sebagai pembela hak asasi manusia itu memperingatkan bahwa jika konflik meningkat dan hukum internasional diabaikan, maka konsekuensinya akan menjadi tanggung jawab bersama.
Ia juga mengajak warga sipil untuk tetap menjaga nurani, dengan cara menyuarakan penolakan terhadap kekerasan, menuntut akuntabilitas pemimpin, serta mendukung jalur diplomasi.
“Tidak ada negara atau pemimpin yang berhak menentukan bahwa kehancuran adalah jalan menuju perdamaian,” ujarnya.
Secara khusus, David juga menyinggung warga Filipina yang tinggal di Amerika Serikat agar tidak membiarkan rasa terima kasih kepada negara tersebut mengalahkan nilai kemanusiaan.
Sementara itu, pastor asal Prancis, Bernard Holzer, menyambut baik seruan tersebut. Ia menilai suara dari Asia penting untuk memperkaya perspektif umat Katolik di Amerika Serikat.
Holzer menegaskan bahwa dialog harus menjadi pilihan utama dalam menyelesaikan konflik. “Kekerasan tidak akan menyelamatkan apa pun. Mari berdialog,” katanya (UCAN NEWS, 06 April 2026)