Rabu Abu: Permenungan Menjelang Masa Prapaskah

57 total views, 1 views today

Rabu Abu merupakan pintu gerbang untuk masuk ke Masa Prapaskah – masa puasa dalam liturgi tahunan Gerejawi.

Hari ini ditentukan jatuh pada hari Rabu, 40 hari sebelum hari Paskah tanpa menghitung harihari Minggu, atau 44 hari (termasuk hari Minggu) sebelum hari Jumat Agung.

Pada hari itu kita umat Katolik akan menerima tanda abu di dahi. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel kuno di mana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan.

Namun, kita tidak ingin berhenti sampai disitu. Dengan mengakui dan menyadari kelemahan kita sebagai manusia maka serentaklah kiranya kita ingin memperbaikinya bersama Allah.

Sehingga masa Prapaskah yang akan kita jalani ini menjadi masa pertobatan dari kesalahan dan kedosaaan kita serta syukur atas kasih Allah yang rela mengampuni dosa-dosa dan kelalaian kita.

Oleh karena itu, masa prapaska menjadi kesempatan untuk menemukan kembali kuatnya arus-arus yang membawa kita mendekat pada Allah dan menjauhi ganasnya tarikan-tarikan yang menjauhi-Nya.

Permenungan sikap pertobatan dipahami sebagai sikap yang jera untuk berbuat dosa. Sebab sikap yang jera untuk berbuat dosa berarti dia bersedia menghentikan berbagai kebiasaan buruk khususnya tindakan yang melanggar firman Tuhan. Problem yang dihadapi oleh banyak orang adalah umumnya mereka tahu bahwa berbuat dosa merupakan hal yang jahat di mata Tuhan, namun mereka juga tidak tahu bagaimana dapat jera untuk tidak berbuat dosa lagi. Itu sebabnya agar seseorang dapat bertobat, maka agama-agama pada umumnya juga menciptakan efek jera.

Sebagai umat yang beriman kepada Allah. Kita menyadari bahwa kita manusia biasa yang tidak lepas dari dosa dan kekurangan. Kita juga sering menyia-nyiakan kasih Allah bagi kita. Oleh karena itu, perlu kiranya kita menyadari kealpaan kita tersebut dalam Allah.

Umat Katolik mengenal kebiasaan puasa dan pantang, yaitu pada masa Pra Paskah yang berlangsung selama 40 hari sebelum hari Paskah tanpa menghitung hari-hari Minggu, sebelum hari Jumat Agung.

Sebelum masuk ke masa pantang dan puasa ini, terlebih dahulu kita menerima Abu di dahi oleh Imam sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan. Oleh karena itu selama masa Pra Paskah nantinya, umat Katolik akan berpuasa dan berpantang.

Masa Pra Paskah tersebut merupakan kesempatan bagi kita untuk menyadari bahwa kadang-kadang jiwa kita mengalami masamasa kering di mana Tuhan terasa amat jauh sehingga kita sering putus asa, sedih dan tak berdaya, iman kita lemah dan kekelaman melanda hidup kita. Maka selama masa Pra Paskah ini, marilah kita mencoba untuk melakukan penyegaran jiwa yang kering itu dan membebaskan diri dari tekanan-tekanan yang tidak berguna yang sebenarnya kita sendirilah pelakunya.

Dalam hal pantang dan puasa Yesus menghendaki jangan menonjolkan bahwa kita sedang berpuasa, “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik” (Mat 6:16), para murid Yesus diajarkan untuk menyembunyikan puasa mereka dengan seolah-olah mereka mau mempersiapkan hari raya, “Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa.” (Mat 6:17), sebab Allah telah mengetahui bahwa mereka sedang berpuasa.

Ajaran Yesus ini juga berlaku untuk kita di zaman ini, hendaklah kita dalam masa pra paskah ini, bukan sekedar menahan lapar dan haus, tetapi yang lebih penting kita harus bisa menahan hawa nafsu, serakah, kesombongan, egois, kebohongan, iri hati, birahi dan kebiasaan buruk lainnya yang sering kita lakukan.

Di sisi lain, masa Pra Paska ini menjadi suatu saat untuk berdamai dengan diri kita. melatih kepekaan kita pada situasi kemiskinan di sekitar kita, khususnya dalam situasi krisis global seperti saat ini, dan menjadikan dunia di sekitar kita lebih nyaman dan lebih aman untuk setiap orang.

Untuk melaksanakan hal itu, perlulah kiranya kita membuat “NIAT” dan “USAHA”. Membuat niat untuk melaksanakan usaha-usaha pertobatan tersebut sehingga kita terdorong untuk semakin merenungkan dan menyadari perbuatan, perilaku, tutur kata kita dan rela bertobat serta memperbaharui diri dalam Tuhan. Kita perlu membuat usaha yang mampu diwujudnyatakan sehingga bukan hanya sekedar mimpi dan khayalan belaka, misalnya : meningkatkan hidup rohani (doa, meditasi, renungan harian, dll), meningkatkan amal (kolekte APP, sumbangan untuk kaum miskin, dll), dan berpuasa dan berpantang dengan tekun.

Sehingga dengan melakukan hal ini, maka kita sedang melakukan pendekatan kepada Allah. Karena kita telah berusaha untuk menimba hidup rohani, semakin solider kepada sesama dan membatasi diri dari kemewahan dan serba berlebihan.

Saudara-saudari yang terkasih, Rabu Abu akan mengingatkan akan dosa-dosa kita yang banyak. Kita perlu bertobat dan mengakui bahwa hanya Yesus Kristus yang menjadi satu-satunya Juru Selamat kita. yang dapat memberi pengampunan atas dosa-dosa kita.

Selamat merayakan Hari Rabu Abu dan menjalani masa Pra Paskah. Semoga pada kita semakin meningkatkan cinta kasih kita kepada sesama dan Tuhan Allah pencipta dan penyelamat kita.

Penulis: Sr. Angela Siallagan FCJM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *