Dari Luka Melepuh ke Pembaptisan: Perjalanan Iman Seorang Perempuan Buddhis Menuju Katolik

Oleh Quintus Colombage

 

Foto: Sachini Dilshani Weerakoon, akan menerima sakramen baptis dan resmi menjadi anggota Gereja Katolik pada 4 April mendatang

Seorang perempuan muda asal Sri Lanka, Sachini Dilshani Weerakoon, akan menerima sakramen baptis dan resmi menjadi anggota Gereja Katolik pada 4 April mendatang.

Perempuan berusia 20 tahun itu mengenang perjalanan hidupnya yang penuh penderitaan akibat penyakit kulit kronis yang dideritanya sejak remaja. Namun kini, ia tidak lagi memandang masa itu dengan rasa sakit atau malu, melainkan dengan penuh rasa syukur.

Selama hampir delapan tahun, Weerakoon mengalami lepuhan terbuka di kedua kakinya hampir setiap bulan—bahkan kadang lebih dari 30 luka sekaligus. Dokter menyatakan kondisi tersebut dipicu oleh penyakit autoimun.

Lepuhan itu kerap pecah dan berubah menjadi luka berdarah, membuatnya sulit tidur, bekerja, bahkan bepergian dengan bebas. Kondisinya juga sering disertai sakit kepala hebat yang semakin menambah penderitaan.

Namun pada Mei 2025, lepuhan tersebut tiba-tiba berhenti muncul. Weerakoon meyakini hal itu sebagai mukjizat yang mengubah hidup sekaligus imannya.

“Saya percaya Yesus telah menyembuhkan kaki saya sepenuhnya,” ujarnya sambil tersenyum.

Kini ia menghitung hari menuju Misa Vigili Paskah pada 4 April di Gereja St. Jude the Apostle di Ashokapura, desa tempat tinggalnya, ketika ia akan dibaptis menjadi seorang Katolik.

Akrab dengan umat Kristen

Ashokapura, yang terletak sekitar 225 kilometer di utara ibu kota Colombo, berada dalam wilayah Keuskupan Anuradhapura. Desa ini mayoritas berpenduduk Buddhis, seperti sebagian besar wilayah Sri Lanka. Meski demikian, sekitar 30 keluarga Katolik hidup berdampingan dengan sekitar 400 keluarga Buddhis.

Weerakoon lahir dan dibesarkan dalam keluarga Buddhis. Namun sejak kecil, keluarganya juga memiliki kebiasaan berkunjung ke Gereja St. Jude.

“Meskipun keluarga kami sudah turun-temurun beragama Buddha, orang tua saya sering mengajak kami ke gereja untuk menyalakan lilin,” kata Weerakoon kepada UCA News.

Praktik seperti itu cukup umum di desa mereka. Kuil Buddha berdiri tidak jauh dari gereja Katolik, dan kedua komunitas kerap saling mendukung dalam kegiatan keagamaan masing-masing. Warga desa juga merayakan berbagai perayaan keagamaan bersama.

“Karena itu, persahabatan antara umat Buddha dan Katolik di sini sangat kuat,” ujarnya.

Menyalakan lilin di gereja juga menjadi kebiasaan keluarga mereka, terutama saat ulang tahun—baik ulang tahunnya maupun orang tuanya—sebagai bentuk permohonan berkat ilahi.

Dua tahun lalu, setelah menikah dengan Puthum Lakshan Silva yang beragama Katolik, Weerakoon mulai menyalakan lampu minyak di depan patung Yesus dan Bunda Maria saat berdoa setiap hari.

Ia juga kerap berziarah ke Madhu Shrine, sebuah tempat ziarah Maria di Keuskupan Mannar di bagian utara Sri Lanka. Tempat itu tidak hanya sering dikunjungi umat Katolik, tetapi juga dihormati oleh banyak umat Buddha.

Di tempat ziarah tersebut, ia memohon perantaraan Bunda Maria agar memohon kepada “Putranya, Yesus Kristus, Tuhan,” untuk menyembuhkannya.

Ia merasa kesembuhan itu datang setelah ziarah tersebut. Sejak saat itu, tidak ada lagi lepuhan yang muncul di kakinya.

“Dia telah menyembuhkan saya sepenuhnya,” katanya dengan penuh keyakinan.

Kesembuhan yang menumbuhkan iman

Pengalaman kesembuhan itu mendorong Weerakoon untuk memeluk iman Katolik. Ia kemudian membicarakan keinginannya dengan pastor parokinya, Pastor Granville Chrisantha Srilal.

Sang pastor menyarankannya untuk rutin menghadiri misa dan mengikuti kelas katekese setiap minggu.

Katekisnya, Mahesha Manori, mengatakan bahwa Weerakoon mengikuti proses pembelajaran iman dengan sangat tekun.

“Ia berusaha menumbuhkan kehidupan rohani, mengatasi rasa kesepian dan keputusasaan, serta membagikan imannya kepada orang lain,” ujarnya. (sumber: UCANNEWS, 11 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com