BERTOBAT DAN PERCAYA

 3,920 total views,  4 views today

RP. Hubertus Agustus Lidy, OSC.

Yesus memanggil Simon dan kawan-kawannya, agar mereka mengikuti Dia. Proses pemanggilannya tidak berbelit-belit, sederhana: “Mari ikutilah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Simon dan kawan-kawannya langsung mengikuti Dia. Tanpa “ugu-ege” (repot) . Bagi mereka yang profesinya nelayan, kata “Jala/jaring” pasti bukan merupakan istilah yang asing. Ceritanya berbeda kalau Yesus mengatakan: Mari ikutilah Aku, kamu akan Kujadikan sekretaris-Ku.”  Simon dan kawan-kawannya akan bingung dan bertanya, sekretaris? Apa itu? Dalam hal ini Yesus cerdas. Ia memanfaatkan alur berpikir setempat.

Panggilan Tuhan apapun caranya selalu menggetarkan nurani, dan mendatangkan pembaharuan hidup bagi yang terpanggil. Simon dan kawan-kawannya meninggalkan segalanya; keluarga, kawan, perahu, jala lalu mengikuti Yesus apa adanya, hanya dengan pakaian di badan. Tidak hanya materi yang mereka tinggalkan, tetapi juga sikap, kebiasaan dan pola hidup lama. Mereka masuk dalam sebuah cara hidup yang baru, “Penjala manusia.” Apakah mereka merasa rugi? Tentu tidak. Dalam konteks meninggalkan cara-cara hidup dan kebiasaan lama, nabi Yunus bicara soal pertobatan karena PERCAYA KEPADA ALLAH. “Orang Ninive percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka dan Ia pun tidak jadi melakukannya.”  Orang-orang Ninive serentak beralih ke cara hidup baru. Pertobatan yang menyelamatkan.

Yesus tentu mempunyai tujuan, memanggil Simon dan kawan-kawannya. Tujuannya agar mereka mendengar perkataan-perkataanNya, menyaksikan perbuatan-perbuatanNya dan mensiarkan tentang Dia. Dalam ‘perjalanan’ bersama Yesus mereka semakin percaya bahwa Yesus adalah JURU SELAMAT. Saudaraku. Pertobatan pada prinsipnya MENYELAMATKAN MANUSIA dari kebiasaan dan cara-cara lama yang menyesatkan, yang membuat hidup menjadi rumit, bagi diri maupun orang lain. Kalau cara-cara hidup lama yang hidup dalam masyarakat maka yang ada adalah: KEKACAUAN DAN KEHANCURAN atau bahasa rohaninya tidak selamat. Bagi orang percaya, berkiblat pada Injil itu menyelamatkan, sekarang dan akan datang. Rasul Paulus kepada umat di Korintus dengan tegas mengatakan bahwa apapun ceritanya dunia ini akan punah dan yang kekal hanyalah SABDA TUHAN, DENGAN DEMIKIAN PRIORITASKAN SABDA TUHAN DARI SEKARANG JUGA. “Pendeknya orang-orang yang mepergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak menggunakannya. Sebab dunia yang kini tampak ini akan punah,”

Saudara-saudariku, DALAM DAN MELALUI SAKRAMEN PERMANDIAAN, kita sudah menjawab ya dan mengikuti Tuhan untuk selama-lamanya. Saat itu Gereja dan tradisi kekristenan menjadi segala-galanya. Pegang teguh kebenaran itu maka anda dan keluarga anda tak akan goyah dengan tawaran dan panggilan-panggilan lain. Dengan bangga dan rendah hati kita mengatakan: SEKALI KRISTEN SELAMA-LAMANYA KRISTEN. JANGAN TINGGALKAN GEREJAMU. “Waktunya telah genap; kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” (Hari Minggu Biasa yang ke 3 – 2021)

 

Facebook Comments
Baca juga  WASPADA DAN BERJAGA-JAGA || Hari Minggu Adven I

Rina Barus

Menikmati Hidup!!!

Leave a Reply