Ayatollah Iran Minta Paus Turun Tangan Saat Perang Meluas di Timur Tengah

 

Ayatollah Seyed Mostafa Mohaghegh Damad Ahmadabadi, seorang sarjana Islam dari Iran,menjawab pertanyaan wartaawan pada tanggal 14 Maret 2010, sebelum memberikan menyampaikan materinya dalam pertemuan di Vatikan  (CNS photo/Paul Haring) See IRAN-POPE-SANCTIONS March 23, 2020)

Oleh Camillo Barone (NCR Report)

Ketika konflik di Timur Tengah kian meluas sejak pecahnya perang pada 28 Februari antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, seorang ulama senior Iran mengajukan seruan kepada Paus Leo XIV.

Ayatollah Seyed Mostafa Mohaghegh Damad Ahmadabadi, tokoh terkemuka dalam kalangan ulama Syiah Iran, menulis surat terbuka kepada Paus yang berisi seruan perdamaian dan penghormatan terhadap hukum internasional. Dalam surat tersebut, ia meminta pemimpin umat Katolik dunia itu untuk menggunakan pengaruh moralnya guna mendorong Presiden Amerika Serikat menahan diri.

Bagi Damad, seruan ini memiliki makna spiritual yang mendalam.

“Perdamaian, keadilan, dan nilai-nilai luhur kemanusiaan adalah kehendak Tuhan dalam semua agama ilahi, kitab suci, dan seruan monoteistik untuk perdamaian,” tulisnya.

Orang menyaksikan dan mengambil foto saat asap mengepul setelah bom menghantam depok minyak Sharan di Taheran pada tanggal 08 Maret 2026 dalam perang AS dan Israel melawan Iran.  (OSV News photo/Majid Asgaripour, WANA via Reuters) Editors: ATTENTION EDITORS – THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY EDITORIAL USE ONLY)

Namun, surat itu juga memuat kecaman tegas terhadap konflik yang sedang berlangsung. Damad menyoroti jatuhnya korban sipil serta serangan terhadap infrastruktur sipil.

“Pusat-pusat medis, ilmiah, dan penelitian telah dihancurkan, melanggar norma internasional dan prinsip perlindungan terhadap fasilitas tersebut,” ujarnya.

Ia pun secara langsung meminta Paus untuk mengingatkan Presiden AS akan ajaran Yesus Kristus agar menghentikan tindakan kekerasan. “Kami memohon agar Yang Mulia membimbingnya agar tidak melakukan tindakan tersebut dan agar tidak ada lagi darah manusia yang tertumpah,” tulis Damad.

Sosok Moderat di Lingkaran Ulama Iran

Ayatollah Seyyed Mostafa Mohaghegh Damad  dari Iran bersama Paus Fransiskus pada tanggal 4 Oktober 2021 di  Hall Benektin -Vatikan  dalam sebuah pertemuan bersama tokoh agama  berbicara tentang “Iman dan Pengetahuan  (CNS photo/Paul Haring)

Damad dikenal sebagai salah satu ulama dengan pandangan moderat dan cenderung reformis di Iran. Ia menempuh jalur panjang dalam studi keislaman hingga menjadi figur otoritatif dalam teologi.

Selama bertahun-tahun, ia kerap mengkritik kebijakan pemerintah Iran dari dalam struktur keulamaan. Melalui tulisan dan ceramahnya, Damad menyerukan evaluasi nasional terhadap praktik-praktik ideologis yang dinilai kaku dan memicu polarisasi di masyarakat.

Salah satu isu yang pernah ia soroti adalah kewajiban hijab yang diberlakukan negara. Ia berpendapat bahwa tidak ada bukti dalam sejarah Islam, termasuk pada masa Nabi Muhammad, yang menunjukkan penggunaan paksaan dalam penerapan aturan berpakaian.

Meski demikian, ruang gerak ulama reformis seperti Damad tetap terbatas dalam sistem politik Iran. Kritik yang disampaikan jarang berujung pada perubahan struktural.

Di media sosial, Damad juga menuai kritik karena dianggap vokal soal perang, namun relatif diam terhadap penindasan domestik terbaru, termasuk laporan tewasnya ribuan demonstran pada awal Januari.

Tradisi Dialog dengan Vatikan

 

Imam besar Ayatolla Ali al-Sistini, figur terkenal dalam Islam Syiah menyambut Paus Fransiskus selama pertemuan di Najaf, Irak pada 6 Maret 2021 (CNS/Kantor Grand Ayatollah Ali al-Sistani)

Ini bukan kali pertama Damad menyurati Paus. Pada 2018, ia menulis kepada Paus Fransiskus untuk memprotes sanksi AS terhadap Iran, yang dinilai berdampak buruk bagi masyarakat sipil.

Pada 2020, di tengah pandemi Covid-19, ia kembali meminta Vatikan mendorong pencabutan sanksi karena memperburuk krisis kesehatan di Iran.

Langkah Damad juga mencerminkan hubungan panjang antara Iran dan Vatikan. Dialog antara ulama Syiah dan Gereja Katolik telah berlangsung sejak awal 2000-an, termasuk kunjungan timbal balik antara Teheran dan Roma.

Salah satu momen penting terjadi pada 2021 ketika Paus Fransiskus bertemu Ayatollah Agung Ali al-Sistani di Najaf, Irak—pertemuan bersejarah yang menekankan pentingnya dialog antaragama.

Dampak Diplomatik Diragukan

Meski sarat pesan moral, sejumlah pengamat meragukan dampak praktis dari surat tersebut.

Paus memang memiliki posisi sebagai suara moral dalam isu global, namun pengaruhnya terhadap kebijakan politik, khususnya di Amerika Serikat, dinilai terbatas.

Selain itu, dinamika politik domestik AS juga dinilai dapat menghambat efektivitas diplomasi Vatikan. Perbedaan narasi antara seruan damai dari Vatikan dan retorika keagamaan di sebagian kalangan politik Amerika disebut berpotensi memperlebar jurang persepsi.

Dalam konteks ini, seruan Damad dinilai lebih sebagai upaya simbolik untuk mendorong dialog lintas agama dan peradaban, ketimbang langkah yang akan segera menghasilkan perubahan konkret di lapangan (VATICANEWS, 19 Maret 2026)


Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com