Pada sore hari, Paus Leo XIV melakukan kunjungan keempatnya ke sebuah paroki di Roma dalam rangkaian kegiatan menjelang Paskah. Sebagai Uskup Roma, ia merayakan Misa dan bertemu dengan umat serta para imam di berbagai wilayah keuskupannya, terutama di lingkungan yang menghadapi berbagai persoalan seperti kemiskinan, kejahatan, dan peredaran narkoba.
Dalam homilinya, Paus menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.
“Kaum muda berisiko tumbuh dalam tipu daya mereka yang menyebarkan kehancuran atau menjadi putus asa terhadap masa depan,” katanya. “Banyak dari mereka menantikan rumah, pekerjaan yang menjamin kehidupan yang bermartabat, serta ruang aman untuk bertemu, bermain, dan merencanakan sesuatu yang indah bersama.”
Ia juga menegaskan bahwa banyak orang datang ke paroki dengan luka batin dan kehilangan harapan.
“Laki-laki dan perempuan datang ke paroki ini dengan luka dalam jiwa mereka, martabat yang terluka, dan kehausan akan harapan,” ujarnya. “Anda memiliki tugas mendesak dan membebaskan untuk menunjukkan kepada mereka kedekatan Yesus, keinginan-Nya untuk menebus hidup kita dari berbagai kejahatan yang mengancamnya dengan tawaran kehidupan yang adil, benar, dan penuh.”
Menurut Paus, umat dapat memperoleh kekuatan melalui Ekaristi.
Ia menambahkan bahwa Injil, yang menjadi sumber kebenaran, dapat membantu setiap orang membuka mata untuk menilai dengan bijak mana yang baik dan mana yang jahat, sehingga terbentuk hati nurani yang bebas dan dewasa.
Bertemu Keluarga dan Kaum Muda
Sebelum merayakan Misa, Paus Leo juga bertemu dengan keluarga dan kaum muda yang berkumpul di luar gereja.
“Yesus datang ke rumahmu, ke dalam hatimu, ke dalam hidupmu. Kita harus siap membuka pintu itu untuk menemukan Yesus yang sedang menantikan kita,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Yesus selalu dekat dengan umat manusia.
“Yesus dekat dengan kita. Mari kita membuka mata kita,” ujarnya, sambil mengingatkan bahwa Tuhan dapat ditemukan dalam diri mereka yang menderita atau membutuhkan pertolongan. “Ia meminta kita untuk membagikan kepada mereka apa yang telah kita terima.”
Ajakan Membawa Perdamaian
Paus Leo juga mengajak anak-anak untuk membawa perdamaian dalam kehidupan mereka.
Ia mengatakan bahwa selalu ada cara untuk mengatasi perbedaan dan kesulitan tanpa menggunakan perundungan atau kekerasan. Menurutnya, perdamaian adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dunia saat ini.
Renungan Injil tentang Perempuan Samaria
Sebelum mengunjungi paroki tersebut, Paus Leo memimpin doa Angelus di Vatikan pada tengah hari. Dalam kesempatan itu, ia menyoroti bacaan Injil hari tersebut tentang perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria di sumur (Yohanes 4:5–42).
“Menurut kebiasaan saat itu, Yesus seharusnya mengabaikan perempuan Samaria itu. Namun Ia justru berbicara dengannya, mendengarkan, dan menunjukkan rasa hormat tanpa maksud tersembunyi maupun sikap merendahkan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa banyak orang mencari sikap yang sama dari Gereja.
“Betapa banyak orang mencari kepekaan dan keterbukaan seperti ini di dalam Gereja. Dan betapa indahnya ketika kita rela meluangkan waktu untuk memberi perhatian kepada orang yang kita jumpai,” ujarnya.
Paus juga mengutip penulis Yahudi asal Belanda, Etty Hillesum, yang wafat di kamp konsentrasi Auschwitz pada 1943 pada usia 29 tahun. Hillesum pernah menulis tentang pencarian manusia akan sumber spiritual.
“Begitu banyak orang di dunia mencari mata air rohani ini,” kata Paus, mengutip tulisan Hillesum: “Kadang-kadang aku juga menemukannya. Namun sering kali batu dan kerikil menutup sumur itu, dan Tuhan terkubur di bawahnya. Maka sumur itu harus digali kembali.”
Menutup pesannya, Paus Leo mengatakan bahwa tidak ada energi yang lebih baik digunakan selain untuk membebaskan hati manusia.
“Saudara-saudari terkasih, tidak ada energi yang lebih baik digunakan selain yang dipersembahkan untuk membebaskan hati kita,” ujarnya.
(sumber: UCANNEWS.Com)