“Doa & Keuletan Umat Membangun Gereja Didengar Tuhan”

Paroki St. Antonio Maria Cllaret Tomok – Simanindo Keuskupan Agung Medan berdiri tanggal 29 Oktober 2006. Sebelumnya Paroki ini bergabung dengan Paroki Parapat, Pangururan dan Palipi. Paroki St. Antonio Maria Claret Tomok - Simanindo memiliki 18 Stasi. Stasi Ambarita, Stasi Lintong, Stasi Parmonangan, Stasi Sibatubatu, Stasi Sinuan Rautbosi, Stasi Tanjungan, Stasi Buntu Bosar, Stasi Sipinggan Lontung, Stasi Peajolo, Stasi Sibosur, Stasi Siparapat, Stasi Tomok, Stasi Hutagurgur, Stasi Pangaloan, Stasi Sangkal, Stasi Simanindo, Stasi Sorsor Tolong dan Stasi Tuktuk. Diantara ke-18 Stasi ini, Stasi St. Thomas Ambarita adalah stasi yang termuda.

Stasi St. Thomas Ambarita berdiri tanggal 7 Maret 1993, mulanya dengan umat 5 kepala keluarga. Karena bangunan fisik gereja pada masa itu belum ada, maka rumah bapak Renita Panjaitan disulap menjadi Rumah Tuhan. Kebaktian hari Minggu pun dilangsungkan di rumah Bapak Renita Panjaitan, yang kala itu sedang menyewa rumah Pendeta Binsar Nainggolan. Situasi ini tidak mengurangi semangat mereka untuk mengikuti kebaktian. Mereka tetap mensyukuri situasi ini dan sembari mempersiapkan bangunan gereja.

Satu bulan setelah Stasi St. Thomas Ambarita terbentuk, RP Alfonsus Simatupang OFMCap. yang menjabat sebagai Pastor Paroki pada masa itu, mengunjungi sekaligus memimpin misa perdana di stasi tersebut. Tahun 1998 umat bertambah menjadi 7 KK.  Pada tahun yang sama dibangunlah Gereja Katolik Stasi St. Thomas Ambarita. Gereja darurat dibangun di tanah milik Bapak Renita Panjaitan, dengan status meminjam lahan. Dana pembangunan gereja dikumpulkan dari swadaya umat Stasi Ambarita. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, jumlah umat di Stasi Ambarita ini pun semakin bertambah. Akhirnya bulan Agustus 2001, Gereja pindah ke Dusun III Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir yang merupakan tanah Keuskupan Agung Medan. Karena umat mau mandiri maka tidak mengajukan proposal pada waktu itu. Dana Pembangunan Gereja kali ini pun tetap dikumpulkan dari swadaya umat. Maka berdirilah Gedung Gereja berdindingkan papan yang dilengkapi dengan altar, podium dan bangku sederhana. Meskipun sederhana, tetapi tidak mengurangi semangat umat untuk beribadah. Bahkan mereka mensyukuri segala proses yang Tuhan berikan. Mereka bisa mengembangkan iman dan bangunan gereja secara berlahan.

Umat Stasi St. Thomas Ambarita terus meningkat, saat ini jumlah umat sudah menjadi 22 KK. Kondisi bangunan Gereja dirasa kurang layak untuk menampung seluruh umat. Terkadang situasi ini ‘menciutkan’ keinginan umat untuk melangsungkan pemberkatan pernikahan di stasinya. Namun ada beberapa umat yang tetap menerima kondisi gereja apa adanya. Biasanya pengurus gereja membantu mensiasati keadaan dengan menambahkan tenda dan bangku di halaman gereja.

Bapak F. Marbun yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pastoral Stasi (KDPS) merasa Stasinya sudah membutuhkan bangunan gereja yang lebih besar. KDPS dan Umat Stasi St. Thomas Ambarita dengan seizin Pastor Paroki sepakat membangun gereja baru. Tanggal 17 Oktober 2016 di Gereja Stasi, dibentuklah Panitia Pembangunan Gereja Stasi St.Thomas Ambarita. Tanggal 11 Februari 2017, diadakanlah peletakan batu pertama oleh Pastor Kristian Dodok CMF selaku Pastor Paroki Tomok - Simanindo.  Perayaan sederhana ini dihadiri oleh umat Stasi Ambarita, para undangan dan juga Bapak Poltak Sitinjak, selaku donatur tunggal pembangunan Gereja Stasi Ambarita. Seluruh umat tampak bersukacita dalam perayaan ini. “Dua periode saya menjabat sebagai KDPS di Stasi St. Thomas Ambarita. Saya sungguh berbahagia menjalani peran ini, karena kami kerja bersama-sama. Saya melihat umat stasi ini antusias dalam melaksanakan gotong-royong dan mau berdoa bersama,” kata Pak F. Marbun. Namun Pak KDPS ini tidak menepis bahwa masih ada umat yang kurang aktif di Gereja. Meskipun demikian ia akan tetap berusaha mengajak umatnya untuk lebih peduli lagi akan Tuhan. “Saya berharap umat semakin mau memberi diri untuk  Gereja. dan para pengurus pun mampu menciptakan komunikasi yang baik. Juga bisa di ajak bekerjasama untuk meningkatkan kwalitas pelayanan di Stasi kami,” ungkap KDPS. 

Gereja Stasi St Thomas Ambarita adalah Gereja dimana umatnya yang minoritas dibandingkan dengan Gereja Stasi lainnya di Paroki Tomok - Simanindo. Menurut Pastor Kristian Dodok, CMF, doa dan keuletan umat di Stasi Ambarita menjadikan keinginan mereka untuk membangun Gereja yang layak untuk beribadah. Selain itu karena ada donatur yang berbaik hati yang membantu pembangunan Gereja tersebut. “Saya berharap, semoga kedepannya umat semakin memberi hati dalam pelayanan sebagai keluarga berdoa. Berani bersaksi menyatakan Imannya. Menjadi teladan di tengah masyarakat. Selamat dan sukses atas peletakan batu pertama, Mohon Doa semoga pembangunan Gereja lancar dan cepat selesai,” tutur Pastor Paroki. Berkat Tuhan sungguh mengalir pada umatnya di Stasi St. Thomas Ambarita ini. Hal ini tampak pada semangat mereka yang tidak pernah pudar dalam pengumpulan dana pembangunan Gereja. Semoga pembangunan Gedung Gereja berjalan dengan baik. Agar kerinduan umat Stasi St. Thomas Ambarita untuk mencicipi Gereja yang layak huni cepat terwujud. 

(Rina Barus, laporan Gohana Sidabutar)

Design by Jupen Manik komsoskam.com