Sejarah Gereja Stasi
St. Antonius
Gereja Katolik pertama kali hadir di Muara tepatnya di stasi Santo Fransiskus. Seorang umat marga Aritonang berteman dengan seorang tokoh di daerah Muara. Tokoh itu bernama Raja Benjamin Sianturi. Suatu kali mereka mengadakan pertemuan. Mereka membicarakan mengenai agama Katolik di daerah Muara. Dari pembicaraan tersebut, respon yang diambil oleh Raja Benjamin yakni mengumpulkan para penatua-penatua yang ada di daerah Sitiotio. Mereka membicarakan mengenai rencana membangun persekutuan umat Katolik di Sitiotio. Pada tahun 1936 untuk pertama kalinya umat yang ada di Sitiotio ini beribadat secara Katolik di rumahnya Raja Benjamin. Peribadatan ini dipimpin oleh Raja Benjamin. Peribadatan ini dilakukan selama 2 tahun.

Pada tahun 1938 berdirilah sebuah gereja tempatnya persis tempat berdirinya gereja sekarang ini. Ukuran gereja waktu itu hanya 6 M x 10 M. Umat yang ada berjumlah 50 KK saja. Dalam perjalanan kisah sejarah gereja di Muara, Gereja Katolik pernah mengalami penutupan. Pada tahun antara 1942 sampai dengan 1945 Gereja Katolik ditutup oleh Jepang dan dibuat menjadi gedung biasa. Karena situasi sulit ini, ada sebagian umat akhirnya pindah ke gereja HKBP, terutama mereka yang berasal dari daerah Horja Dolok. Mereka yang masih setia dengan gereja Katolik tetap melakuan ibadat di rumah Raja Benjamin.

Gereja Katolik kembali dibuka di Sitiotio pada tahun 1945 karena kekalahan Jepang waktu itu. Dalam perkembangan selanjutnya umat dari stasi ini bertambah menjadi 70 kk di tahun 1946. Pada waktu itu dipilih sebagai ketua dewan stasi yakni Amang Panji. Selanjutnya kepemimpinan terus berganti-ganti. Ketua dewan stasi yang ketiga bernama Guru Karol Sianturi. Pada saat kepemimpinan ketua stasi yang kelima yakni Bp. Guru Jaulim Siregar dibangunlah gereja Katolik di daerah Baribaniaek.

Dalam perjalanan hidup menggereja stasi St. Antonius Sitiotio pernah mengalami konflik di antara umat. Pada saat pemilihan ketua stasi yang baru yakni Biske Simaremare marga Sianturi tidak terima. Pemilihan ini menimbulkan kontra di antara sesama umat. Persoalan ini coba diselesaikan oleh Pastor Yosep Jaga Dawan waktu itu. Pastor Yosep menjabat sebagai pastor paroki di Dolok Sanggul. Pastor Yosep kemudian memilih dan mengangkat Masbon Sianturi. Kubu yang saling bertentangan sebelumnya ada yang memilih pindah ke gereja tetangga yakni gereja HKI. Mereka yang pindah sebanyak 10 KK. Setelah dipilih ketua stasi yang baru, maka semua aktivitas dan kegiatan menggereja berjalan lancar. Umat pun semakin bersemangat untuk membangun kembali gereja mereka.

Dalam era kepemimpinan ketua stasi Masbon Sianturi pada tahun 2003, gereja stasi ini coba dibangun dengan ukuran 11 x 24 M. Proses pembangunan masih dalam tahan dikerjakan ketua stasi pergi meninggalkan umatnya. Ketua stasi pergi merantau ke daerah lain. Kepengurusan dan kepemimpinan gereja stasi dikelola oleh Bapa Manoto Manalu. Bapa Manoto Manalu kemudian melanjutkan proses pembangunan tersebut sampai selesai. Karena tidak ada kepengurusan yang tetap, maka pastor paroki waktu itu Pastor Gabriel Madja, SVD memilih dan melantik ketua stasi yang baru yakni Bapa Manoto Manalu. Tetapi bapa Manalu sempat keberatan karena beliau masih belum memiliki rumah yang tetap dan beliau mengatakan bahwa dia adalah pendatang di desa tersebut. Dalam kebudayaan Batak Toba beliau itu dikatakan sebagai marga boru di kampung Sitiotio tersebut. Pada tanggal 5 Mei 2012 datanglah pastor paroki Dolok Sanggul pada waktu itu, Pastor Gabriel Madja, SVD ke stasi Sitiotio. Beliau mengatakan sebelum ada kepengurusan yang jelas dari stasi ini, proses pemberkatan gereja tidak akan dilaksanakan. Proses pemilihan ketua akhirnya dilaksanakan di Dolok Sanggul pada tanggal 25 Mei 2012 setelah pemberkatan gereja di Sitiotio tanggal 12 Mei 2012. Pada tahun 2013 stasi-stasi yang ada di wilayah Muara masuk dalam kawasan Paroki yang baru dibentuk yakni Paroki Santo Kristoforus, Siborongborong, termasuk di dalamnya stasi St. Antonius, Sitiotio, Muara.
 
Bersama Membangun Semangat Hidup Menggereja
Setiap tanggal 17 Januari Gereja Katolik universal memperingati Santo Antonius Abbas. Orang kudus inilah yang kemudian dipilih oleh para pengurus gereja stasi Sitiotio untuk menjadi pelindung gereja. Sejarah perjuangan jatuh-bangun membangun semangat hidup menggereja dan membangun gedung gereja menjadi latar belakang umat memilih nama pelindung Santo Antonius. Setelah diberi nama pelindung stasi hampir dalam waktu tiga tahun terakhir ini selalu diadakan pesta pelindung stasi dengan misa kudus bersama dengan umat. Semangat Santo Antonius Abbas sebagai pendoa coba diperkenalkan kepada umat dan ditanamkan di dalam kehidupan harian mereka. Dengan umat yang rata-rata bekerja sebagai petani kehidupan menggereja di stasi ini berjalan sangat baik. Gereja tertata rapi dan bersih. Setiap minggu selalu ada ibadat sabda diadakan di gereja ini. Umat yang datang ke gereja pun semakin hari semakin bertambah.
Selain itu, kelompok-kelompok kategorial di dalam gereja semakin digalakkan yakni Kelompok Punguan Ina Katolik dan Kelompok Orang Muda Katolik serta Asmika. Dan pada tanggal 11 Februari 2017 yang lalu dibentuklah Kelompok Punguan Ama Katolik Stasi St Antonius, Sitiotio. Kelompok Punguan Ama Katolik yang dibentuk menjadi satu sarana untuk mengumpulkan para bapa untuk giat pergi ke gereja dan berkumpul bersama. Kelompok PAK ini sejak dibentuk hingga sekarang sering kali mengadakan pertemuan di rumah-rumah anggota. Kegiatan rutin yang dibuat yakni latihan koor bersama. Ke depan diharapkan bukan hanya sekadar latihan koor. Tetapi kegiatan-kegiatan kerohanian yang lainnya. Pada hari Minggu tanggal 14 Mei 2017 yang lalu bersama dengan Kelompok Punguan Ama Katolik dari Paroki Siborongborong. Mereka menampilkan beberapa lagu untuk memeriahkan perayaan Ekaristi pada hari itu. Dengan adanya kunjungan dari sama saudara ini diharapkan semangat para bapa di stasi Sitiotio ini semakin bertambah untuk menggeraja dan aktif terlibat dalam kegiatan di gereja. 


Kini, dengan terbentuknya kelompok Punguan Ama Katolik Stasi Santo Antonius Sitiotio bisa sangat membantu umat yang lainnya untuk mengembangkan semangat hidup beriman umat Katolik yang ada di Muara, khususnya Sitiotio. Kebersamaan, kekompakan, dan kesetiaan dalam ikut kegiatan menggereja sangat dibutuhkan apalagi daerah stasi Santo Antonius Sitiotio ini akan masuk dalam kawasan Badan Otorita Danau Toba. Kawasan ini akan menjadi kawasan wisata yang bersentuhan langsung dengan Danau Toba. Imbas dari penetapan kawasan tersebut pasti akan sangat terasa bagi kehidupan beriman umat dan masyarakat Muara pada khususnya. Semoga semangat orang kudus Santo Antonius Abbas pelindung stasi tetap membantu umat untuk semakin setia dan dekat dengan Tuhan-Nya seperti teladan hidup yang telah ia berikan kepada umat Katolik. 


Yohanes Antonius Lelaona, SVD       

Design by Jupen Manik komsoskam.com