“Doa & Keuletan Umat Membangun Gereja Didengar Tuhan”

Paroki St. Antonio Maria Cllaret Tomok – Simanindo Keuskupan Agung Medan berdiri tanggal 29 Oktober 2006. Sebelumnya Paroki ini bergabung dengan Paroki Parapat, Pangururan dan Palipi. Paroki St. Antonio Maria Claret Tomok - Simanindo memiliki 18 Stasi. Stasi Ambarita, Stasi Lintong, Stasi Parmonangan, Stasi Sibatubatu, Stasi Sinuan Rautbosi, Stasi Tanjungan, Stasi Buntu Bosar, Stasi Sipinggan Lontung, Stasi Peajolo, Stasi Sibosur, Stasi Siparapat, Stasi Tomok, Stasi Hutagurgur, Stasi Pangaloan, Stasi Sangkal, Stasi Simanindo, Stasi Sorsor Tolong dan Stasi Tuktuk. Diantara ke-18 Stasi ini, Stasi St. Thomas Ambarita adalah stasi yang termuda.

Sejarah Gereja Stasi
St. Antonius
Gereja Katolik pertama kali hadir di Muara tepatnya di stasi Santo Fransiskus. Seorang umat marga Aritonang berteman dengan seorang tokoh di daerah Muara. Tokoh itu bernama Raja Benjamin Sianturi. Suatu kali mereka mengadakan pertemuan. Mereka membicarakan mengenai agama Katolik di daerah Muara. Dari pembicaraan tersebut, respon yang diambil oleh Raja Benjamin yakni mengumpulkan para penatua-penatua yang ada di daerah Sitiotio. Mereka membicarakan mengenai rencana membangun persekutuan umat Katolik di Sitiotio. Pada tahun 1936 untuk pertama kalinya umat yang ada di Sitiotio ini beribadat secara Katolik di rumahnya Raja Benjamin. Peribadatan ini dipimpin oleh Raja Benjamin. Peribadatan ini dilakukan selama 2 tahun.

Design by Jupen Manik komsoskam.com